QALBU DALAM TASAWUF
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO LAMPUNG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Qalbu adalah sesuatu yang berkaitan dengan hati atau perasaan yang ada di dalam diri manusia yang tidak akan bisa hilang sampai dia mati. Qalbu terdiri dari dua yaitu hati dalam arti perasaan dan hati dalam arti daging yang ada di dalam rongga dalam manusia.
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi.
Hati dalam arti daging yaitu salah satu organ yang ada dalam tubuh manusia yang mempunyai fungsi yanitu menetralkan racun-racun yang ada di dalam tubuh tersebut.
Qalbu adalah sesuatu yang berkaitan dengan hati atau perasaan yang ada di dalam diri manusia yang tidak akan bisa hilang sampai dia mati. Qalbu terdiri dari dua yaitu hati dalam arti perasaan dan hati dalam arti daging yang ada di dalam rongga dalam manusia.
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi.
Hati dalam arti daging yaitu salah satu organ yang ada dalam tubuh manusia yang mempunyai fungsi yanitu menetralkan racun-racun yang ada di dalam tubuh tersebut.
Qalbu dapat dianggap berpadanan
dengan ruh, yang memiliki aspek rabbani sebagaimana aspek ciptaan. Qalbu dalam
tasawuf digunakan sebagai satu pusat khas yang berbeda dengan pusat-pusat
lainnya, lazimnya ia tidak menunjuk yang tertinggi maupun yang terendah, tetapi
pada sesudah yang terendah, yakni pusa jiwa. Qalbu adalah tanah genting
(barzakh) yang sering disebut dalam al-quran.
Telah kita saksiakan pula bahwa para
sufi, tepatnya yang terkemuka di anatara mereka, adalah para perintis (sabiqun)
dan orang-orang yang dekat (muqarrabun). Tidak mustahil yang paling
bermakna dan yang paling sering mereka ulang adalah ungkapkan mereka yang
memiliki qalbu. Uraian itu ditangguhkan hingga kini karena cukup berharga
dan menarik untuk menjadi tema sentral suatu bab.
1.2
Rumusan masalah
1. Pengertian qalbu ?
2. Dasar hukum
3. Perbedaan qalbu dengan hati
4. Tingkatan-tingkatan hati dalam diri manusia
1. Pengertian qalbu ?
2. Dasar hukum
3. Perbedaan qalbu dengan hati
4. Tingkatan-tingkatan hati dalam diri manusia
1.3
Tujuan Penulisan
Makalah ini selain digunakan untuk menyelesaikan tugas akhlak tasawuf juga memiliki tujuan yang ditunjukan kepada pembaca yaitu :
1. Menjelaskan mengenai pengertia Qalbu
2. Menjelaskan dasar hukum
3. Menjelaskan perbedaan antara qalbu dengan hati
4. Menjelaskan tingkatan-tingkatan hati dalam diri manusia
Makalah ini selain digunakan untuk menyelesaikan tugas akhlak tasawuf juga memiliki tujuan yang ditunjukan kepada pembaca yaitu :
1. Menjelaskan mengenai pengertia Qalbu
2. Menjelaskan dasar hukum
3. Menjelaskan perbedaan antara qalbu dengan hati
4. Menjelaskan tingkatan-tingkatan hati dalam diri manusia
KERANGKA FIKIRAN
![]() |
|
|
|
|
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Qalbu
Qalbu secara khusus diartikan dengan
hati secara qalbu memiliki dua arti yaitu pertama adalah hati jasmani yang
berarti daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di
dalam rongga dada sebelah kiri dan berisi darah hitam kental atau daging
berbentuk kerucut yang terpisah dibagian kiri dada. Didalamnya terdapat rongga
yang berisi darah hitam. Ini merupakan sumber roh hewani. Kedua, menyangkut jiwa
yang bersifat lathif (halus) rabbani (mempunyai sifat ketuhanan) dan
rohaniyyat.1
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi. Luthf rabbani ruhani. Memiliki hubungan dengan hati yang bersifat jasmani.
Dalam kajian tasawuf, qalbu mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai alat untuk menemukan penghayatan ma’rifat kepada Allah, karena dengan hati inilah manusia bisa menghayati segala rahasia yang ada di dalam gaib. Hati itulah yang alim (tahu) kepada Allah.
2. Hati berfungsi untuk beramal hanya kepada Allah dan berusaha menuju Allah, sedangkan anggota badan lainnya hanyalah pelayan dan sekaligus alat dipergunakan oleh hati.
3. Hati pula yang taat kepada Allah, adapun gerak ibadah semua anggota badan adalah pancaran hatinya.
4. Hati tidak dapat berbohong meskipun bibirnya berkata lain.
5. Hati bisa mengendalikan emosional, nafsu, perilaku manusia tersebut.
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi. Luthf rabbani ruhani. Memiliki hubungan dengan hati yang bersifat jasmani.
Dalam kajian tasawuf, qalbu mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai alat untuk menemukan penghayatan ma’rifat kepada Allah, karena dengan hati inilah manusia bisa menghayati segala rahasia yang ada di dalam gaib. Hati itulah yang alim (tahu) kepada Allah.
2. Hati berfungsi untuk beramal hanya kepada Allah dan berusaha menuju Allah, sedangkan anggota badan lainnya hanyalah pelayan dan sekaligus alat dipergunakan oleh hati.
3. Hati pula yang taat kepada Allah, adapun gerak ibadah semua anggota badan adalah pancaran hatinya.
4. Hati tidak dapat berbohong meskipun bibirnya berkata lain.
5. Hati bisa mengendalikan emosional, nafsu, perilaku manusia tersebut.
1Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin,
Kamus Ilmu Tasawuf, AMZAH, 2005. Hlm. 183
Qalbu juga menjadi tempat cahaya iman,
cahaya khusyuk, taqwa, cinta, ridha, yakin, takut, harapan, sabar, qana’ah dan
menjadi sumber ilmu karena qalbu seperti sumber mata air. Sedangkan shadr
bagaimana danau, dimana air mengalir dari sumbernya memenuhi danau tersebut.
Shadr merupakan tempat keluarnya ilmu dari hati atau merupakan tempat masuknya
ilmu dari pendengaran adalah setelah melalui shadr. Keyakinan ilmu dan niat
selalu bergelora di dalam qalbu, sehingga keluar ke dada. Oleh karenanya qalbu
merupakan pokok dan shadr merupakan cabang.
Qalbu juga menjadi tempat ilmu
hikmah dan ilmu isyarat setelah yang bersangkutan mendapatkan petunjuk dari
allah swt. Bagi seseorang yang oleh allah swt di buka hatinya sehingga dapat
menyaksikan sesuatu yang gaib dan dapat melihat sesuatu yang terdapat di balik
hijab-nya maka ia seperti melihat sesuatu yang gaib dengan matanya. Sehingga
apabila di buka tutup hijab atasnya,hal itu tidak akan menambah sesuatu yang
terdapat di dalam jiwanya. Hakim at-tirmidzi menggambarkan sifat hati yang di atur
oleh allah swt adalah hati para wali allah yaitu yang hati penuh hasanah hikmah
tempat rahmah,tambang kesaksian dan tempat penyipanan ma’rifat ia juga tempat
allah swt melihatnya dengan pandangan rahmat-nya, cawan ilmu-nya, menurut
simuh, di antara sufi ada yang berpendapat bahwa di dalam hati (Qalbu) terdapat
sirr dan ruh. Sirr dan ruh serta qalbu, ktiganya mempunyai fungsi yang berbeda.
Sirr di katakan sebagai tempat atau alat untuk bermusyahadah (menyaksikan) alam
gaib, sedangkan ruh merupakan tempat atau alat untuk ber-mahabbah dan qalbu
adalah tempat atau alat untuk ber’rifat kepada Allah.
Berdasarkan uraian di atas, qalbu
berpotensi untuk berdialog dengan tuhan. Inilah yang di kehendaki al-ghazali
dengan ungkapan bahwa diluar akal dan jiwa, terdapat alat yang dapat menyingkap
pengetahuan yang gaib dan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Penyingkapan pengetahuan seperti ini merupakan wacana irfaniah. Hanya dengan
sarana al-qalbu itulah ilmu ma’rifat dapat diperboleh manusia.
Qalbu adalah indera penglihatan
spiritual atau intelektual yang langsung. Bagaimanapun juga, pada diri manusia
berdosa indera itu terhijab, karena menyatakan bahwa ketika manusia dipaksa
meninggalkan surge duniawi ia kehilangan kontak dengan sang pencipta, dengan
sumber kehidupan sama saja dengan menyatakan ia tak lagi memiliki jalan masuk
langsung kea rah qalbu. Dengan demikian insane terusir ini dapat diartiakan
sebagai malam berawan. Telah kita lihat bahwa sebagai pusat kemaujudan kita,
qalbu merupakan matahari batiniah. Ini membawa kita pada pertanyaan tentang
makna qalbu dalam ilmu tasawuf.2
Hati adalah segumpal darah yang
terletak didalam rongga dada, agak kesebelah kiri, warnanya agak kecoklatan,
dan berbentuk segitiga. Tetapi, yang dimaksud disini bukanlah hati yang terjadi
dari segumpal darah yang bersifat materi itu, tetpi yang kita maksud ialah hati
yang bersifat immateri. Hati (materi) menjadi obyek pembahasan biologi,
sedangkan hati (immatewri) menjadi obyek ilmu tasawuf.3
2.2. Hukum
Dasar
Qalbu
(hati) tidak hanya organ tubuh yang bernama demikian, tetapi tentang jalan
masuk yang disodorkan oleh pusat jasmani, yakni pusat jiwa yang merupakan pintu
gerbang menuju qalbu (hati) yang lebih mulia, yaitu ruh. Al-Quran menyatakan:
فَاِ نَّهَا لاَ تَعْمَى اْلاَبْصَارُ
وَلكِنْ تَعْمَى اْلقُلُوْبُ الَّتِيْ فِيْ الصُّدُوْرِ
“Sebenarnya bukan mata itu yang buta,
tetapi yang buta itu adalah hati yang ada did ala dada”. (Q.S. Al-Hajj:46)
2Martin Lings, Membedah Tasawuf,
Pedoman Ilmu Jaya, hal.45
3Yunasril Ali, pengantar ilmu tasawuf,Pedoman Ilmu Jaya,cet.I 1987
Qalbu dapat digunakan untuk
menunjukkan anak tangga teratas yaitu pribadi yang agung. Disebutkan dalam
hadis qudsi:
“bumi-ku
tiada mempunyai rumah bagi-ku, demikian pula langit-ku, namun qalbu hamba-ku
yang beriamn memiliki rumah untu-ku.”
Qalbu adalah tanah genting
(barzakh) sebagai pemisah antara dua laut yang mewakili langit dan bumi. Laut
berair yang tawar yang segar sebagai jelajah sang ruh sedangkan laut
berair asin dan payau merupakan wilayah tubuh dan jiwa.4 Disebutkan dalam Al-quran:
وَهُوَالَّذِيْ
مَرَجَ اْلبَحْرَيْنِ هذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وُّهذَا مِلْحُّ اُجَا جٌج وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا
بَرْزَخًاوَّحِجْرًامَّحْجُوْرًا
“dan dialah yang membiarkan dua laut
mengalir (berdampingan; yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin dan
pahit; dan dia ajdikan anatara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.”
(Q.S.Al-furqan:53)
Salah satu kunci Qurani tentang
makna-makna bathinniah adalah ayat:
سَنُرِيْهِمْ
ايتِنَافِيْ اْلا فَاقِ وَفِيْ اَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ
اْلحَقُّقلىى اَوَلَممْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
شَهِيْدٌ
“kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kebesaran) kami di segenap penjuru, dan bagi diri mereka sendiri,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
al-quran itu benar. Tidak cukuplah (bagi kamu) bahwa tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu. ”
(Q.S. Fussilat:53)
4Martin Lings, Membedah Tasawuf,
Pedoman Ilmu Jaya, hal.44
2.3. Perbedaan Qalbu dan Hati
Qalbu merupakan cahaya hati dan
rahasia yang tinggi yang diturunkan kepada manusia agar bisa berkomunikasi
dengan Tuhan YME, qalbu merupakan salah satu daya rohaniah yang menurut
al-jilli ada 7 yaitu: hati(qalbu), akal (al’qah) estiminasi (wahm) meditasi(himmah)
fikiran(fikr) fantasi(khayal) dan jiwa(nafs), jadi qalbu itu hal-hal yang
bersangkutan dengan tuhan (berkomunikasi).
Hati merupakan penglihatan yang digunakan untuk memilih atau memilah sesuatu di dunia. Misalnya memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Jadi hati dipergunakan manusia sebagai sarana komunikasi sesama manusia. Hati manusia merupakan tempat perubahan dan pasang surut yang konstan, hati merupakan organ instuisi supranatural terbagi realitas transenden yang berhubungan dengan manusia . hati merupakan sekat(al-barzakh) antara dunia dan akhirat. Hati merupakan tempat jihat yang terbesar(al-jihat al-akbar) sekaligus tempat merendah diri (nafs) yang memerosokkan berhadapan dengan ruh yang merindukan, perang antar kedua kekuatan ini merupakan suatu yang menguasai manusia dan tidak dapat dipisahkan.5
Hati merupakan penglihatan yang digunakan untuk memilih atau memilah sesuatu di dunia. Misalnya memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Jadi hati dipergunakan manusia sebagai sarana komunikasi sesama manusia. Hati manusia merupakan tempat perubahan dan pasang surut yang konstan, hati merupakan organ instuisi supranatural terbagi realitas transenden yang berhubungan dengan manusia . hati merupakan sekat(al-barzakh) antara dunia dan akhirat. Hati merupakan tempat jihat yang terbesar(al-jihat al-akbar) sekaligus tempat merendah diri (nafs) yang memerosokkan berhadapan dengan ruh yang merindukan, perang antar kedua kekuatan ini merupakan suatu yang menguasai manusia dan tidak dapat dipisahkan.5
2.4.
Tingkatan-tingkatan Hati dalam Diri
Manusia
1. Bashiroh (mata hati/the eye of heart)
membedakan baik/buruk Ini adalah bagian/tingkatan terluar hati. Tugas dari bashiroh adalah mendeteksi baik/buruk suatu perbuatan Korupsi itu buruk. Bersedekah itu baik. Yang tahu itu baik/ buruk adalah bashiroh.
1. Bashiroh (mata hati/the eye of heart)
membedakan baik/buruk Ini adalah bagian/tingkatan terluar hati. Tugas dari bashiroh adalah mendeteksi baik/buruk suatu perbuatan Korupsi itu buruk. Bersedekah itu baik. Yang tahu itu baik/ buruk adalah bashiroh.
2. Dhomir (moral)
mengerjakan atau tinggalkan Kedalam lagi, ada dhomir yang berfungsi untuk menggerakkan agar kita mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Yuk bersedekah. Jangan korpusi. Yang bilang kerjakan/ tinggalkan adalah dhomir.
mengerjakan atau tinggalkan Kedalam lagi, ada dhomir yang berfungsi untuk menggerakkan agar kita mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Yuk bersedekah. Jangan korpusi. Yang bilang kerjakan/ tinggalkan adalah dhomir.
3. Fuad (hakim)
Menghakimi apakah kita baik/buruk Semakin kedalam lagi, ada fuad (hakim). Tidak ada suap-menyuap dalam bagian ini.
Contoh: bashiroh mengatakan korupsi itu tidak baik lalu dhomir menyuruh kita untuk meninggalkannya. Nah, fuad akan bilang bahwa anda orang baik.
Menghakimi apakah kita baik/buruk Semakin kedalam lagi, ada fuad (hakim). Tidak ada suap-menyuap dalam bagian ini.
Contoh: bashiroh mengatakan korupsi itu tidak baik lalu dhomir menyuruh kita untuk meninggalkannya. Nah, fuad akan bilang bahwa anda orang baik.
4. Sirr (misteri)
Mengetahui misteri dalam hati Terus kedalam, ada sirr(misteri). Contoh: adanya flu burung itu bukan hanya disebabkan oleh virus, tapi ada‘hal lain’ yang masih misteri.‘Hal lain’ tersebut bisa dilihat dan dirasakan oleh orang-orang yang tingkatan hatinya sudah sampai sirr. Artinya, bagian hati ini sudah aktif/berfungsi.Orang-orang tersebut adalah auliyaullah.
5. Lathifah (perangkat lunak)
mengakses informasi di lauhul mahfudz Bagian hati paling dalam adalah lathifah. Bahasa gampangnya adalah internet. Bagian ini dapat mengakses berbagai informasi di lauhul mahfudz. Inilah tingkatan paling mulia. Nah, itulah tingkatan/bagian hati kita. Semoga kita bisa mengaktifkan semua bagian hati kita diatas. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan dzikrullah alias ingat kepada Allah.6
BAB III
ANALISA
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi. Luthf rabbani ruhani. Memiliki hubungan dengan hati yang bersifat jasmani.
Hati salah satu (alat) untuk berkomunikasi kepada manusia dan tempat untuk memilih, memilah sessuatu yang dianggap menarik atau yang kita sukai. Hati juga merupakan komponen yang sangat sensitive dan tidak bisa dilihat oleh siapapun. Hati dapat dirasakan oleh manusia itu sendiri.
Qalbu adalah salah satu (alat) untuk berkomunikasi dengan Tuhan YME, qalbu tempat untuk mencurahkan hati(Curhat).
Secara harfiah, Insan berarti manusia. Jamil Shaliba mengatakan bahwa kata insan menunjukkan pada sesuatu yang secara khusus digunakan untuk arti manusia dari segi sifatnya, bukan fisiknya. Dalam bahasa Arab kata insan mengacu kepada sifat manusia yang terpuji seperti kasih sayang, mulia dan lainnya. Selanjutnya kata insan digunakan oleh para filosof klasik sebagai kata yang menunjuk¬kan pada arti manusia secara totalitas yang secara langsung mengarah pada hakikat manusia. Kata insan juga digunakan untuk menunjukkan pada arti terkumpulnya seluruh potensi intelektual, rohani dan fisik yang ada pada manusia, seperti hidup, sifat kehewanan, berkata-kata dan lainnya. Selanjutnya kata insan dijumpai di dalam al-Qur’an dan dibedakan dengan istilah basyar dan al-nas. Kata insan jamak-nya kata al-nas. Kata insan mempunyai tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang mempunyai arti melihat, mengeta-hui dan minta izin. Yang kedua berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. Yang ketiga berasal dari kata al-uns yang artinya jinak, lawan dari kata buas. Dengan bertumpu pada asal kata anasa, maka insan mengandung arti melihat, mengetahui dan meminta izin, dan semua arti ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam bidang penalaran, sehingga dapat menerima pengajaran.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Qalbu adalah sesuatu yang berkaitan dengan hati atau perasaan yang ada di dalam diri manusia yang tidak akan bisa hilang sampai dia mati. Qalbu terdiri dari dua yaitu hati dalam arti perasaan dan hati dalam arti daging yang ada di dalam rongga dalam manusia.
Hati dalam arti perasaan yaitu sesuatu yang ada di dalam manusia yang melekat dan tidak bisa di bohongi oleh apapun, bibir bisa berbohong tapi perasaan yang tidak bisa berbohong. Jadi perasaan bisa di artikan sesuatu yang tidak bisa dibohongi. Sifat hati manusia senantiasa bolak balik , tiada tetap kadang bersih , kuat iman , bercahaya , lemah lembut , tapi suatu saat menjadi kotor , lemah iman keras membatu terhadap kebenaran .
DAFTAR PUSTAKA
1.
Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf,
AMZAH, 2005.
2.
Martin Lings, Membedah Tasawuf, Pedoman Ilmu Jaya,
cet.II. 1987
5.
Yunasril
Ali, pengantar ilmu tasawuf,Pedoman Ilmu Jaya,cet.I 1987
.png)
By
23.13

0 komentar