Open top menu
Tampilkan postingan dengan label INFO SYARI'AH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO SYARI'AH. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Juni 2014
no image

Sempat melawat ke Inggris, mampirlah ke Edgware Road. Lokasi ini merupakan bagian dari pusat Kota London. Penduduk di Edgware kebanyakan berasal dari Arab dan Pakistan. Di tempat inilah, grup perbankan HSBC membuka kantor cabang bersistem syariah yakni HSBC Amanah.
Ketimbang negara-negara Eropa lainnya, Inggris paling dulu merealisasikan sistem keuangan syariah. Awalnya adalah kelimpahan dana dari negara-negara Timur Tengah saat harga minyak bumi meroket pada sekitar 2000-an. Jadilah, Inggris bersiap diri untuk mengolah dana ini.
Dalam catatan, jumlah penduduk London pada 2005 berada di angka 7,4 juta jiwa. Total penduduk Inggris sebanyak 60 juta orang. Dari jumlah itu, 1,8 juta jiwa beragama Islam. Pemerintah berikut industri perbankan Inggris melihat kenyataan ini sebagai pasar yang potensial.
Kekompakan pemerintah dan industri perbankan memang berbuah. Paling tidak, bank ritel macam Lloyds TSB sudah menyediakan produk-produk berbasis syariah seperti tabungan serta pinjaman untuk pembelian rumah. Lloyds TSB adalah bank kelima terbesar di Inggris.
Fakta menarik disampaikan oleh Noor Ur Rahman Abid yang juga Managing Partner Assurance & Advisory Services Ernst & Young Middle East pada Februari tahun ini. Menurut Noor, di Inggris empat hal bergandengan erat untuk memajukan perbankan syariah. Mereka adalah peran pemerintah, pengembangan institusi, aturan yang memungkinkan, serta pengembangan dan proses pembelajaran yang terus-menerus.
Sementara, masih menurut Noor, hingga 2013, investasi berbasis syariah di dunia bakal mencapai 1 triliun dollar AS. Di samping itu, terang Noor, kelimpahan minyak membuat di Timur Tengah terdapat dana High Net Worth Individual (HNWI) yang melampaui 1,4 triliun dollar AS. Juga, ada investasi Sovereign Wealth Fund (SWF) di atas 2 triliun dolar AS.
Selanjutnya, dari total angka itu, 15 persennya dialokasikan untuk transaksi menggunakan sistem keuangan Islam (Islamic transactions). Terus, 15 persen dari jumlah dana itu bernilai 500 miliar dollar AS.
Jika dihitung, dana sebesar inilah yang dapat dijadikan peluang bagi sistem syariah untuk terus-menerus dikelola. Tidak berhenti sampai di situ, boleh dibilang, pemerintah Inggris, khususnya, doyan berpromosi untuk menempatkan London sebagai pusat keuangan internasional pula. Dari situlah, produk-produk berbasis syariah, terlebih bagi warga Muslim Eropa, didorong ke garis depan.
Tiada tanggung-tanggung, pemerintah Inggris berani menghilangkan pajak ganda dalam akad murabahah atau akad jual beli yang mengutamakan kesepakatan antara tempat harga dan keuntungan antara penjual dan pembeli. Kebijakan ini membuat produk-produk syariah memiliki nilai kompetitif.
Pemerintah Inggris pun mereformasi peraturan demi mendukung perkembangan sukuk (obligasi syariah) yang kini tumbuh pesat. Jauh hari sebelum transaksi terjadi, pemerintah Inggris membuat aturan yang bersahabat bagi transaksi keuangan syariah. Langkah lainnya, melalui Financial Services Authority (FSA) atau lembaga pembuat regulasi dan pengawas sistem perbankan dan keuangan di Inggris  sebagai regulator,  memberi kemudahan sekaligus melakukan efisiensi bagi sistem keuangan Islam.
Sampai sekarang, di Inggris, terdapat tiga bank yang beroperasi penuh sebagai bank syariah dan satu perusahaan takaful. Selain itu, semua perusahaan hukum bisa menangani perkara dalam praktik keuangan Islam. Dengan segala potensi ditinjau dari sisi finansial, sosial, ekonomi serta regulasi, ada sebuah peluang besar bagi pertumbuhan yang tinggi.
Pertumbuhan yang pada ujungnya memberi manfaat bagi konsumen, sekaligus mendorong Inggris pada umumnya dan London pada khususnya, berposisi sebagai pusat keuangan Islam yang andal. (Josephus Primus, dari berbagai sumber)
________________________________________

Read more
no image

Inggris Negara Barat dengan Bank Syariah Terbanyak

Ditulis Oleh Bayhaque, LONDON.
Sebuah studi mencatat Inggris sebagai negara yang memiliki bank terbanyak bagi umatmuslim di antara negara Barat lainnya. Saat ini terdapat lima bank murni syariah di Inggris,sementara 17 bank lainnya seperti Barclays, RBS, dan Lloyds Banking Group telah memiliki unitusaha syariah.Aset perbankan syariah Inggris yang mencapai 18 miliar dolar AS (12 miliar  pounds) melebihi aset bank syariah seperti di Pakistan, Bangladesh, Turki, dan Mesir. Hal tersebut pun didukung oleh 55 universitas dan lembaga pendidikan lainnya di Inggris yang memiliki pendidikan keuangan syariah. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding negara-negaralainnya.Berdasarkan laporan International Financial Services London (IFSL), perkembanganInggris sebagai pusat keuangan Islam dalam beberapa tahun terakhir sangat didukung oleh pemerintah. Dukungan pemerintah diantaranya adalah keleluasaan pajak bagi kredit rumah danmembuat perdagangan sukuk menjadi lebih mudah.Direktur Ekonomi IFSL, Duncan McKenzie,mengatakan dukungan kebijakan pemerintah Inggris akan keuangan Islam menempatkan pelayanan syariah seperti layanan konvensional. "Perkembangan keuangan syariah di Inggrismenunjukkan negara ini satu-satunya negara Barat yang memegang teguh fitur keuangan Islam,"kata McKenzie, sebagaimana dilansir dari telegraph.co.uk.Inggris menduduki peringkat delapandalam aset perbankan syariah di seluruh dunia. CEO UK Trade & Investment, Sir Andrew Cahn,mengatakan meski ekonomi syariah tak berasal dari Inggris, tapi keuangan syariah telahmenemukan tempatnya di Inggris."Tak ada sektor yang kebal terhadap krisis keuangan global,namun keuangan syariah telah menunjukkan daya tahan luar biasa," kata Cahn. Keuangan syariahdapat bertahan dari krisis kredit dan resesi lebih baik dari bank lainnya karena adanya laranganinvestasi di asset yang beresiko, seperti halnya sub-prime mortgages.
Terhadap perkembangan Bank Syariah di Indonesia, menimbulkan ketertarikan NegaraSingapur, Islamic Bank of Asia (IBA) sedang mencari peluang akuisisi di Malaysia dan Indonesia.Hal itu dilakukan untuk meraih pasar ritel di kedua negara.Asia menjadi prioritas utama IBAdalam melakukan ekspansi, walau juga melihat peluang ekspansi di Arab Saudi, Uni Emirat Arabdan Kuwait. Bank-bank syariah mengalihkan perhatiannya ke konsumer ritel setelah pasar sukuk mengalami perlambatan karena krisis ekonomi global. Meningkatnya permintaan akan investasiyang beretika dan ketertarikan non-muslim akan keuangan syariah membuat bisnis ritel menjadi pasar yang potensial.Chief Executive IBA, Vince Cook mengatakan bank yang berbasis diSingapura ini mempertimbangkan berbagai pilihan untuk masuk ke pasar Malaysia dan Indonesia,termasuk membeli saham bank-bank di negara-negara tersebut.“Singapura memiliki platform bagus dalam bisnis lintas negara. Indonesia dan Malaysia dapat melengkapinya denganmemberikan kami kesempatan membangun bisnis ritel di sana,” kata Cook, sebagaimana dilansir gulf-daily.news.com.IBA sendiri telah melakukan survei ke sejumlah institusi, namun belum ada yang menjadi target utama. IBA yang terbentuk pada 2007 memiliki modal 500 juta dolar AS. Saat ini IBA fokus pada sektor komersial, pembiayaan korporasi, pasar modal dan layanan pengelolaankekayaan. Bank dengan asset terbesar di Asia Tenggara, Singapore’s DBS memiliki 50 persensaham, sementara sisa saham lainnya dimiliki para investor negara-negara Teluk.DBS semakintertarik akan perbankan syariah, terutama saat perekonomian di dua pasar utama Singapura danHong Kong mengalami perlambatan dan semakin terjerumus dalam ke jurang resesi. Singapurasendiri memiliki ambisi menjadi pusat keuangan syariah dan secara agresif terus mempromosikankonsep syariah.Sudah seharusnyalah Pemerintah Indonesia didalam Kebijakan Dasar Maupun KebijakanPemberlakuannya, meberi suport dan membangun bangunan hukum tentang sistim ekonimi syariahdan perbankan syariah, mengingat perkembangan perekonomian syariah sangat berkembang pesat baik di asia tenggara maupun di dunia Barat terutama di Negara Inggris, kenapa PemerintahIndonesia tidak mengpergunakan peluang-peluang manis ini untuk menaggulangi krisis ekonomiglobat sekarang ini, yang sudah barang tentu dibantu dengan dengan perekonomian mikro diIndonesia yaitu dengan membangun dan memberdayakan koperasi syariah.Satu kekurangan lagi bagi Pemerintah Indonesia mengenai Pengaturan Sukuk yang sudahtertinggal dengan negara singapur, sedangkan Indonesia masih berbenah diri, mari kita lihat uraiandibawah ini : misalnya di Singapura telah menerbitkan Sukuk. Bank sentral Singapura, MonetaryAuthority of Singapore (MAS) telah melengkapi fasilitas penerbitan sukuk. Pengatur fasilitassukuk ini adalah Standard Chartered Bank (Stanchart) dan Islamic Bank of Asia, sementara penasihat hukumnya adalah Allen & Gledhill. Managing Director MAS, Heng Swee Keatmengatakan, sukuk memiliki posisi sama dengan Singapore Government Securities (SGS). MAS berkomitmen menerbitkan sukuk tersebut untuk memenuhi kebutuhan lembaga keuangan diSingapura yang memiliki rencana atau telah melakukan aktivitas syariah. Selain itu, sukuk jugadapat memperkuat kemampuan lembaga keuangan untuk memenuhi modal dan likuiditas.Anggotakomisi kelompok manajemen Stanchart, V Shankar memberikan ucapan selamat kepada MASsebagai bank sentral pertama di wilayah minoritas Muslim yang menerbitkan sukuk. ''Saya berharap ini bisa menjadi titik terpenting untuk mempromosikan keuangan syariah di Singapura,''kata Shankar.MAS juga menyatakan dampak langsungnya dapat membuat bank-bank di Singapuramasuk dalam pasar antarbank dan menawarkan pembiayaan Ijara Wa Igtina. Adanya perubahantersebut membuat lembaga keuangan dapat menawarkan instrumen lebih luas dalam pengelolaanlikuiditas dan penyesuaian antara aset dan liabilitas.Deutsche Bank Luncurkan Al Mi'yar FRANKFURT - Deutsche Bank meluncurkan platform syariah bernama Al Mi'yar untuk memfasilitasi sekuritas syariah. Deutsche Bank bekerjasama dengan Luxembourg Financial Group AG yang berperan sebagai manajer investasi.Head of Structuring for the Middle East and North Africa Deutsche Bank, Geert Bossuyt mengatakan, AlMi'yar akan menjadi sebuah revolusi dalam penerbitan sekuritas sesuai syariah. Platform Al Mi'yar telah sesuai dengan standar terbaru Accounting and Auditing Organization of Islamic FinanceInstitutions (AAOIFI). ''Deutsche Bank bangga kembali menjadi yang terdepan dalam inovasikeuangan Islam,'' kata Bossuyt, sebagaimana dilansir dari menareport.com.Sejauh ini DeustcheBank telah membuktikan dirinya bisa mengadaptasi segala jenis produk investasi dan strategisesuai syariah. Al Mi'yar akan memudahkan investor Islam dalam melakukan investasi denganmemberikan eksposur pada kelas-kelas aset berbeda.Berbeda dengan platform syariah lainnya, AlMi'yar memaksimalkan efisiensi dan memberikan perlindungan bagi para investor selainmeningkatkan likuiditas dan return. CEO Luxembourg Financial Group AG, Johan Groothaert
 
 mengatakan, Al Mi'yar menetapkan standar baru karena memberikan perlindungan lebih baik padanasabahBerdasarkan fakta-fakta tersebut, segera membangun perekonomian syariah agar parainvestor asing tidak ragu-ragu menanamkan modalnya di Indonesia yang khususnya pada perekonomian syariah di Indonesia dan Bank Syariah............akan dapat bersaing dengan Bank Konvensional yang telah lama berkiprah di bidang Perbankan.

Read more
no image

London, Pusat Syariah Global

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Kota London kini menjadi pusat perkembangan keuangan syariah global. Rabu (23/2), pertemuan tahunan Konferensi Keuangan Islam di gelar di ibu kota Inggris tersebut.
 ”Ada resistensi untuk memperluas pasar keuangan islam di negara ini,” ujar Sekretaris Jenderal Akuntansi dan Audit, Organisasi Lembaga Keuangan Islam, Mohamad Nedal Chaar, dalam pembukaan Konferensi Keuangan Islam, seperti dikutip Associated Press.

Ia tak memungkiri sejumlah islamfobia (ketakutan akan sistem islami) muncul di negara barat. Namun, dinilainya, hal ini terjadi akibat ketidakpahaman sejumlah pihak akan ajaran sesungguhnya dalam syariah. Awalnya, industri ini dianggap hanya bisa berkembang di negara mayoritas Islam, seperti wilayah Teluk dan Asia Tenggara.

”Namun, seiring meningkatnya permintaan masyarakat dunia, ekspansi industri ini terus melebarkan sayap hingga ke dunia minoritas Muslim,” jelasnya.

Pascakrisis ekonomi global, perbankan syariah dianggap alternarif baru pertumbuhan pembiayaan internasional. Meski pangsa pasar masih berada di kisaran dua hingga tiga persen dari aset pembiayaan global atau sekitar satu triliun dolar AS, keuangan tanpa riba ini tumbuh rata-rata 25 persen per tahun.

Statistik menunjukan aset lembaga keuangan syariah secara global terus menunjukan pertumbuhan sekitar 10 persen per tahun. Keuangan lembaga syariah secara global meriah pencapaian 800 dolar AS, beranjak dari aset awal di 1990 sekitar 150 dolar AS.

Sejumlah pihak percaya, pencapaian ini akan semakin signifikan di tahun mendatang, hingga empat triliun dolar AS. Hal ini didorong sejumlah faktor, seperti semakin bertambahnya populasi muslim dengan kemampuan daya beli tinggi serta semakin meratanya pendidikan dan kesempatan kerja.

Ekonomi Syariah menggunakan kaidah syariah hukum Islam. Keuangan ini melarang adanya bunga dalam kegiatan keuangan dan menjunjung kesepakatan dengan orientasi pada aset yang berwujud. Ia melarang spekulasi dan terdapat pembagian risiko yang jelas antara kedua belah pihak yang bertransaksi.

Bagi pihak yang kontra, ekonomi syariah dianggap tidak mengguntungkan. Selain itu, ia dianggap hanya manifestasi dari doktrinasi agama tertentu saja.

Pemerintah Inggris memang dikenal menjamin berkembangnya industri ini. Sejumlah lembaga perbankan syariah bahkan dilegalkan di negara tersebut. Bahkan, Bank Islam Inggris, memiliki aset syariah hingga delapan miliar pound atau senilai 13 miliar AS, paling besar diantara aset bank islam di negara non-Muslim lain.

Sulitnya Berkembang di AS

Berbeda dengan Inggris, perkembangan ekonomi syariah di Amerika Serikat terasa sedikit sulit. Sentimen yang mengganggap Islam sebagai teroris masih menjadi halangan bagi lembaga keuangan syariah.

Sebelumnya, akhir tahun lalu melalui Pusat Kebijakan Keamanan sempat menerbitkan sebuah laporan berjudul Syariah: Ancaman bagi Amerika. Praktek syariah dianggap tidak sesuai dengan konstitusi dan harus dilarang.

Laporan ini bahkan didukung oleh beberapa partai diantaranya Republik. Bukan hanya itu, sejumlah anggota parlemen, juga sempat meminta hukum di negara tersebut untuk membatasi gerak lembaga keuangan islam, terutama pembiayaan syariah, di negara adi daya itu.

Padahal, menurut salah satu pengamat keuangan Islam AS, Paul McViety, sebenarnya permintaan akan penggunaan sistem syariah di sejumlah lembaga keuangan di Amerika cukup besar. ”Amerika memiliki penduduk Muslim lebih dari 2,4 juta yang menginginkan sistem ini diterapkan di negara tersebut,” katanya dalam konferensi yang sama.
Read more